Kota Banjarbaru

Dianggap Intoleran Kepsek SMA 1 Banjarbaru Angkat Bicara

0

BANJARBARU,REPORTASE9.COM – Diduga intoleran dikarenakan tetap menyelenggarakan kegiatan event sekolah pentas karya seni dan pameran di saat Hari Libur Nasional yang mana merupakan hari besar keagamaan yaitu Hari Raya Waisak pada 16 Mei 2022, Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Banjarbaru mendapat kejutan. Rabu,(18/5/2022).

Kejutan tersebut merupakan polemik yang menguak usai salah seorang Wali murid yang tidak ingin disebutkan namanya melalui pesan Whatsapp membeberkan himbauan oleh guru SMAN 1 Banjarbaru kepada muridnya untuk bisa mengikuti kegiatan persiapan ini, yang mana juga terindikasi adanya unsur paksaan.

Isi Imbauan yang dimaksud berbunyi sebagai berikut :

“Murid dihimbau melalui pesan singkat dari grup whatsapp sekolah agar masuk pada tanggal 16 Mei (Hari Raya Waisak) dan 17 Mei untuk persiapan pentas karya seni dan pameran. Dihari itu juga akan ada absensi dan jika tidak hadir maka dianggap tidak melaksanakan kegiatan sehingga mendapat nilai 0. Jika berhalangan hadir maka harus lapor dengan Wali kelas dan Kepala Sekolah,”bebernya.

Mengklarifikasi hal tersebut Kepala Sekolah SMAN 1 Banjarbaru Finna Rahmiati membantah, bahwa pihaknya secara sengaja menentukan persiapan kegiatan itu pada saat Hari Raya Waisak, melainkan kebetulan bertepatan dengan tanggal merah Libur Nasional.

“Tidak menentukan pada hari libur nasional, karena kegiatan event sekolah dilaksanakannya tanggal 17 Mei, tentu untuk mempersiapkan kegiatan tersebut perlu persiapan kan sehari sebelumnya,”ungkapnya.

Finna kembali menjelaskan awal mulanya kegiatan tersebut direncanakan akan dilaksanakan pada bulan April. Namun, karena saat itu Bulan Ramadhan jadi terpakasa harus diundur. Setelah melalui berbagai pertimbangan maka dipilihlah tanggal 17 Mei untuk melaksanakan kegiatan tersebut.

Kemudian ia juga mengutarakan kaget dengan adanya pemberitaan dugaan pelanggaran yang menyatakan pihak SMAN 1 Banjarbaru abaikan Hari Libur Nasional, dan intoleransi terhadap umat beragama, sebagai Kepala Sekolah pihaknya tidak menerima pesan whatsapp atas ketidaksetujuan oleh salah satu orang tua murid tersebut.

Lebih lanjut Finna menyayangkan seharusnya jika ada wali murid yang merasa keberatan atau tidak setuju dengan adanya pelaksanaan persiapan kegiatan pentas karya seni dan pameran di sekolah karena Hari Libur Nasional, bisa mengkonfirmasi langsung ke pihak sekolah.

“Kami menyayangkan hal ini terjadi, sebab jika memang tidak setuju bisa konfirmasi ke kami pihak sekolah tentu akan bekerjasama dan mencarikan solusi terbaik terhadap permasalahan ini,”paparnya.

Sebelumnya, informasi adanya kegiatan sekolah yang bertepatan dengan Hari Raya Waisak itu sudah di sampaikan saat rapat bersama Dinas pendidikan Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) dan siswa-siswi di sekolahnya oleh guru mata pelajaran yang bersangkutan.

Kegiatan event sekolah pentas karya seni dan pameran (Foto : Azmi)

Diberikan pilihan antara tetap dilaksanakan ditanggal tersebut atau diundur, Finna mengungkapkan bahwa para siswa dengan tegas memberikan jawaban siap.

“Guru yang bersangkutan sudah menyampaikan bahwa kita akan melaksanakan pameran pada tanggal 17 Mei, sehari sebelumnya kita persiapan, kamu siap atau tidak? Kalau tidak siap kita ganti harinya. Mereka (para siswa) jawab apa? Siap,” papar Finna.

Ia berasumsi kemungkinan ada oknum orang tua yang dimana anaknya tidak bisa ikut dalam kegiatan pameran seni itu karena masih di luar daerah. Namun Ia menyayangkan permasalahannya tidak dikoordinasikan dengan pihak sekolah.

Adapun informasi mengenai aturan libur keagamaan sekolah di Indonesia tertuang dalam UU No 2 Tahun 1989 Tentang Sisdiknas. Dalam pasal 40 ayat 2 diterangkan bahwa:

Hari-hari libur untuk satuan pendidikan yang diselenggarakan pemerintah diatur oleh menteri dengan mengingat hari raya nasional, kepentingan pendidikan, kepentingan agama, dan faktor musim.

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

You may also like