Kabupaten BanjarReligi

Berziarah ke Makam Syech Abdullah bin Abu Bakar

1
Makam Tuan Syech Abdullah bin Abu Bakar yang merupakan orang tua dari Syech Muhammad Arsyad Al Banjari atau dikenal dengan sebutan Datu Kalampayan

REPORTASE9.COM – Tim Religi reportase9.com melakukan perjalanan wisata religi ke makam-makam para aulia dan wali-wali Allah, salah satunya untuk mengambil i’tibar serta berkah dari Allah swt.

Salah satu makam Aulia Allah yang di kunjungi adalah makam Tuan Syekh Abdullah Bin Abu Bakar dan Siti Aminah binti Husein yaitu orangtua dari Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari (Datu Kalampayan) yang berada di Desa Lok Gabang, Kecamatan Astambul pada hari Sabtu,(20/2/2021).

Untuk menuju makam Orangtua Datu Kalampayan ini bisa menggunakan roda 2 ataupun roda 4 dari Kota Martapura menuju Kecamatan Astambul, dari Kantor Kecamatan Astambul ambil jalan lurus sejauh 5 Km, setelah itu akan ketemu dengan pintu gerbang makam Tuan Syekh Abdullah bin Abubakar.

Sampai di pintu masuk gerbang, pengunjung harus berjalan kaki menyeberangi jembatan kayu yang dialiri sungai. Karena posisi makam orangtua Datu Kalampayan berada diseberang sungai.

Diujung jembatan kayu, pengunjung akan langsung memasuki area makam orangtua Datu Kalampayan untuk berziarah.

Adapun tatacara ziarah ke makam para Aulia Allah pada umumnya yaitu mengucapkan salam, membaca bacaan ketika masuk makam Aulia Allah, sholawat atas Nabi Muhammad Saw, dan membaca surah Al fatihah kemudian duduk.

Adapun juga para penziarah membacakan surah Yasin, surah Al Mulk, bertahlil dan berdoa. Mudah-mudahan dari kegiatan ziarah tersebut ada manfaat yang bisa diambil untuk kehidupan dan mendapat berkah dunia dan akhirat.

Sesuai dengan yang dituliskan oleh Mufti Abdurrahman Sidiq, didalam kitab beliau yakni kitab manaqib dan nasab Datu Kalampayan yang bernama kitab Syajaratul Arsyadiyyah, Syech Muhammad Arsyad bin Abdullah bin Abu Bakar alhindi.

Zaid Ahmad dalam The Biographical Encyclopedia of Islamic Philosophy (2015) menuturkan riwayat ulama  ini. Mereka termasuk kalangan Alawiyyin yang silsilahnya merujuk hingga Rasulullah SAW.

Abu Daudi dalam bukunya yang berjudul Maulana Muhammad Arsyad al-Banjari, bahwa jalur nasab Muhammad Arsyad al-Banjari bin Abdullah bin Tuan Penghulu Abu Bakar bin Sultan Abdurrasyid Mindanao bin Abdullah bin Abu Bakar al-Hindi bin Ahmad Ash Shalabiyah bin Husein bin Abdullah bin Syaikh bin Abdullah al-Idrus al-Akbar bin Abu Bakar al-Sakran bin Abdurrahman al-Saqaf bin Muhammad Maula Dawilah bin Ali Maula al-Dark bin Alwi al-Ghoyyur bin Muhammad al-Faqih
Muqaddam bin Ali Faqih Nuruddin bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khaliqul Qasam bin Alwi bin Muhammad Maula Shama’ah bin Alawi Abi Sadah Ubaidillah bin Imam Al-Muhajir bin Imam Isa al-Rumi bin al-Imam Muhammad al-Naqib bin al-Imam Ali Uraidhy bin al-Imam Ja’far al-Shadiq bin al-Imam Muhammad al-Baqir bin al-Imam Ali Zainal Abidin bin al-Imam Sayyidinana Husein bin al-Imam Amirul Mu’minin Ali Karamallah Wajhah wa Sayyidinaa Fatimah al-Zahra binti Rasulullah Shalla Allahu Alaihi wasallam.

Disebutkan juga oleh Abu Daudi dari H. Muhammad Khotib yang merupakan keturunan dari Muhammad Arsyad al-Banjari, bahwa nasab Muhammad Arsyad al-Banjari sebagai berikut:

كان عبد اهلل بنجر هندية منشاء وبنجر لكابغ مسكنا وقربا وكان جنارا وحبيبا للسلطان

Disebutkan di atas bahwa Abdullah bukan asli orang Banjar melainkan campuran Banjar Hindi yang menetap tinggal di Lok Gabang sampai akhir hayat. Mempunyai keahlian dalam seni ukir kayu dan termasuk orang kepercayaan Sultan pada masanya.

Dalam referensi lainnya disebutkan bahwa Datuk (sebutan moyang bahasa Banjar) dari Muhammad Arsyad al-Banjari adalah Abdul Haris atau Abdurrasyid yang merupakan orang yang pertama kali menetap di Muara Banjar.

Ada yang mengatakan hal ini akibat terjadinya peristiwa kapal pecah yang kemudian terdampar di muara Sungai Barito, peristiwa ini terjadi pada tahun 1650 an. Peristiwa ini adalah buntut dari peristiwa kafilah kapal yang berjumlah puluhan bermaksud untuk pergi ke Mekkah melaksanakan ibadah
haji.

Armada kapal kepunyaan Sultan Suluk dari Mindanao, Filipina Selatan yang sedang membawa dua orang penumpang istimewa yaitu Datuk Abdul Rasyid dan Datuk Muharam. Kedua datuk ini masing-masing menaiki kapal besar dan mewah.

Sedangkan kapal lainnya hanya sebagai pengawal untuk menjaga keselamatan jamaah selama perjalanan menuju Tanah Suci. Ketika rombongan itu sampai di Selat Makasar mereka diterpa angin topan yang kencang lantas kapal-kapal kecil tersebut porak poranda dan tenggelam di atas
lautan.

Hanya dua kapal saja yang selamat dari tiupan angin topan tersebut yaitu kapal yang ditumpangi oleh kedua Datuk tersebut meskipun keadan kapalnya rusak berat dan pecah-pecah. Kedua kapal tersebut terhempas dan terpisah ke daerah orang.

Kapal Datuk Muharam terdampar di pinggiran Sungai Mahakam Kalimantan Timur, sedangkan kapal Datuk Abdur Rasyid terdampar di pinggiran muara Sungai Barito Kalimantan Selatan.

Datuk Muharam yang kapalnya terdampar di pinggiran muara Sungai Mahakam menjalani kehidupan bermasyarakat dengan baik hal ini lantaran dia menikah dengan adik perempuan Sultan Kutai yang bernama Aji Maimunah.

Berbeda dengan Datuk Abdur Rasyid yang kapalnya terdampar di muara Sungai Barito, ia menetap di Banjarmasin dengan menyamar untuk menyembunyikan identitasnya sebagai putra Mahkota Kesultanan Suluk.

Saat itu kesultanan Banjar dipimpin oleh Sultan Tahlilullah (1600-1663 M.), yang pada saat itu terjadi hubungan yang tidak baik antara kedua Kesultanan, dia tidak suka terhadap orang-orang Filipina karena dikenal sebagai pembajak dilaut yang sering membajak kapal-kapal kecil termasuk kapal-kapal dari Banjar.

Singkat cerita, Datuk Abdur Rasyid menikah dengan Mariyah Raktiyah puteri tuan penghulu Putih yang bernama Abdurrahim bin Kiayi Warya.

Dari perkawinannnya itu lahirlah lima orang anak yang salah satunya Haji Abu Bakar yang mana nantinya melahirkan Abdullah yang kelak menjadi ayah dari Muhammad Arsyad al-Banjari. Wallahu A’lam Bishawab

1 Comment

  1. […] REPORTASE9.COM – Tim Religi Reportase9.com melakukan perjalanan wisata religi ke makam-makam para aulia dan wali-wali Allah sebagai salah satu mengambil i’tibar serta berkah dari Allah swt. […]

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like